Kue Nastar WordPress Theme

Ini bukan bercerita tentang kue nastar yang biasa disajikan saat lebaran. Apalagi berharap ada salinan resep disini. Bukan.. bukan itu yang ingin saya tulisakan disini. Kali ini bercerita tentang Theme WordPress yang saya beri nama Nastar (Kue Nastar). Nah kali ini istriku bikin buat camilan sehari-hari. Sebagai pengisi waktu luang sambil nunggu kue mateng, iseng-iseng bukan laptop. Buka editor vim di Ubuntu Linux. Sim salabim.. jadilah theme ini.

Nastar WordPress Themes hanya terdiri dari 2 file yaitu index.php dan style.css. Ditambah 1 file screenshoot.png jadi tiga. Besarnya hanya 62kb. Cocok untuk yang mau otak-atik dan belajar theme WordPress biar sesuai dengan keinginan.

Kedepannya saya pingin ngoprek theme ini ke seni standart web. Ini juga atas saran dari mas Dani. Mungkin Kriteria Universal Design Web dari Accessites.org bisa sebagai acuan. Kita tunggu… toh sama-sama belajar.

Linux yang kecil, ringan, cepat, mudah dan simpel

Sebagai pengguna linux sejak tahun 1999 telah banyak distro yang saya pakai. Mulai dari yang susah, mudah, sederhana sampai yang live CD pernah saya coba. Menjadi pengguna slackware saya jalan hampir 7 tahun. Dan 2 tahun terakhir menjadi pengguna ubuntu.

Alasan menggunakan slackware (dan turunannya) dikarenakan kesederhanaanya. Menggunakan ubuntu dikarenakan kemudahannya. Tidak dipusingkan masalah dependensi. Menggunakan slax, DSL, dan distro kecil lainnya disebabkan karena kecil dan ringan. Tapi selalu ada yang kurang. Inginnya menggabungkan semua kelebihan-kelebihan itu.

Pernah saya membuat sendiri distro berbasiskan ubuntu mini yang 10MB itu. Dengan Window Manager LXDE dan membuang paket-paket yang tidak perlu. Namun tetap saja tidak puas. Belum mengena seperti yang saya harapkan. Karena masih terlalu besar dan kurang stabil.

Beralih mengkostumasi slax agar seperti yang saya inginkan. Sekali lagi mengganti KDE dengan LXDE, tapi masalahnya juga sama. Kurang stabil. Dan ukuran slax masih terlalu besar.

Tanggal 2 oktober 2008, saat santai coba-coba browsing ke google ketemu dengan satu distro dengan nama Slitaz. Made in prancis. Dari situ meluncur ke situsnya. Baca-baca sedikit overviewnya dalam bahasa inggris. Ok, yang ini harus saya coba. Akhirnya download dengan kecepatan 2kbps. Selesai setelah 5 jam untuk ukuran 29MB. Selanjutnya membakarnya ke dalam cakram dan mencobanya.

Kesan pertama saya sangat terkesan dengan distro yang satu ini. Semua yang saya harapkan ada didalamnya. Kesederhanaan slackware, kemudahan ubuntu, kecil, ringan, cepat, live cd, bisa diinstal di HD. Dan untuk newbie, saya kira distro ini cocok sebagai pengenalan. Dan untuk yang sudah expert bisa untuk ngoprek. Rekomendasi saya, anda harus coba distro yang satu ini.

Selanjutnya saya ingin ngoprek slitaz. Untuk sekarang sudah saya tanamkan office, webserver+php+cgi+mysql, image editor. Dan jangan kaget ukurannya masih 30MB.

Opensource Ubuntu GNU/Linux dan Kemerdekaan

17 Agustus 2008, entah sudah tahun keberapa saya tidak mengikuti upacara bendera 17 belasan. Seingat saya 1996, sejak menjadi mahasiswa baru kedokteran gigi universitas jember, baru hari ini saya mengikuti upacara pengibaran bendera 17 Agustus dalam rangka memperingati hari kemerdekaan RI ke 63th. Tidak terasa begitu lama kita merdeka. Nah, setelah begitu lama merdeka, apa makna kemerdakaan bagi saya (kita) dalam kehidupan sehari-hari?

Setelah bertanya pada diri sendiri, makna kemerdekaan bagi saya adalah semangat Opensource. Semangat ini ada dan tergambar jelas dengan adanya kemerdekaan untuk mengembangkan apa yang telah dibuat oleh pendahulunya untuk menjadi lebih baik. Dan tidak lupa kemerdekaan yang dapat dipertanggungjawabkan juga tersirat dalam semangat opensource ini. Ubuntu GNU/Linux telah mengadopsinya. Sekarang tinggal bagaimana kita.

Selamat memperingati hari Kemerdekaan ke 63th untuk negeriku. MERDEKA!!!!