Forgiven But Not Forgotten

Profesor saya melempar topik panas berkenaan dengan masalah memaafkan dan melupakan. Kalau dalam istilah Maduranya, “Forgiven Forgotten”. Topik yang beliau lempar adalah “Forgiveness will open the doorway of our own love? ” Artinya kita harus bersedia SELALU memaafkan, tidak membalas, tidak mendendam, tidak membenci! Bisa gak ya dilakukan ma kita?

Maka sayapun menanggapi dengan statement, kalau manusia lebih bersifat emosional. Dan disini berlaku hukum sebab akibat. Jangan lup, ingatan manusia berlaku dua arah. Dimana pada satu sisi lebih kuat arus kognitifnya dan disaat lain sifat emosional akan muncul. Dan celakanya, emosi dalam diri lebih kuat. Keadaan ini malah menimbulkan dendam kusumat. Yang diistilahkan oleh Prof. Dwi sebagai “Forgivness”. Coba kalau ingatan manusia hanya kuat disisi kognitifnya, maka dengan mudah kita akan “melupakan” kejadian2 yang lalu. Jadi buat yang tingkat emosinya tinggi, yakin deh tak akan pernah bisa memaafkan…. apalagi melupakan… Bukan masalah melupakan atau memaafkan, yang terpenting apa hikmah yang bisa diambil. Jangan seperti keledai bodoh yang terperosok pada lobang yang sama. Seperti nyanyian The Corrs dalam lagu Forgiven Not Frogotten.

A bleeding heart torn apart, left on an icy grave,
In the room where they once lay, face to face,
Nothing could get in their way, but now the memories of the man
Are haunting her days and the craving never fades,
Shes still dreaming of a man long forgiven, but not forgotten,

Youre forgiven not forgotten
Youre forgiven not forgotten
Youre forgiven not forgotten
Youre not forgotten

Still alone, staring on, wishing her life goodbye
As she goes searching for the man long forgiven, but not forgotten,

Forgiven But Not Forgotten

Facebook dan Guru Terbaikku

Menyoal postingan terdahulu tentang wabah Facebook yang melanda. Hari ini saya merasakan benar-benar manfaatnya. Betapa tidak, salah satu Dosen saya, guru terbaik, menghubungi via Facebook. Ada rasa bangga memang. Betapa tidak, beliau yang selama ini ingin segera saya temui sepulang PTT ternyata lebih cepat menghubungi. Walaupun lewat media maya. Ya.. lewat jejaring sosial Facebook.

Beliau bukan sekedar dosen, yang seharusnya sekedar memberikan ilmu. Namun beliau juga mengajari saya “bagaimana seharusnya”.
- Bagaimana seharusnya jadi Dokter.
- Bagaimana seharusnya jadi manusia.
- Bagaimana seharusnya disiplin.
- Bagaimana seharusnya bertanggung jawab.
- Bagaimana seharusnya………

Hari ini beliau menyapa saya di kotak pesan Facebook. Dengan sapaan sederhana. Tapi cukup membuat saya untuk tertegun sesaat. Ternyata Facebook telah mempertemukan saya dengan Dosen sekaligus Guru kehidupan bagi saya.

Nb. Semasa kuliah, beliau dosen yang paling saya takuti.. hehehheheheh…