Facebook dan Guru Terbaikku

Menyoal postingan terdahulu tentang wabah Facebook yang melanda. Hari ini saya merasakan benar-benar manfaatnya. Betapa tidak, salah satu Dosen saya, guru terbaik, menghubungi via Facebook. Ada rasa bangga memang. Betapa tidak, beliau yang selama ini ingin segera saya temui sepulang PTT ternyata lebih cepat menghubungi. Walaupun lewat media maya. Ya.. lewat jejaring sosial Facebook.

Beliau bukan sekedar dosen, yang seharusnya sekedar memberikan ilmu. Namun beliau juga mengajari saya “bagaimana seharusnya”.
- Bagaimana seharusnya jadi Dokter.
- Bagaimana seharusnya jadi manusia.
- Bagaimana seharusnya disiplin.
- Bagaimana seharusnya bertanggung jawab.
- Bagaimana seharusnya………

Hari ini beliau menyapa saya di kotak pesan Facebook. Dengan sapaan sederhana. Tapi cukup membuat saya untuk tertegun sesaat. Ternyata Facebook telah mempertemukan saya dengan Dosen sekaligus Guru kehidupan bagi saya.

Nb. Semasa kuliah, beliau dosen yang paling saya takuti.. hehehheheheh…

Saya Kolusi

Dalam bukunya, Harus Bisa. Dino Pati Djalal menuliskan kalau SBY sangat anti dengan yang namanya KKN. Khususnya dengan kolusi. Digambarkan kalau banyak orang yang tidak suka dan membenci Dino dikarenakan menolak titipan, bisikan dan permintaan untuk dimuluskan ‘perkaranya’ oleh SBY. Kolusi tidak boleh.

Kontek kolusi dalam cara pandang lain pernah saya alami. Dan saya ‘hampir’ kolusi.

Ceritanya begini…!

Sebagai bagian dari tim pemenangan Pilkada untuk ICT bagi bupati Murung Raya periode 2008-2013. Sebagai catatan, pilkada Kab. Murung Raya sudah dilaksanakan tanggal 8 April 2008 kemarin. Tentunya sudah hal yang wajar kalau ada kedekatan. Dan ‘kerjasama’ ini terus berlanjut setelah Bupati memanggil saya. Tugas baru dari Bupati diluar disiplin ilmu saya. Walaupun tugas itu bukan dalam bentuk penggalangan massa, namun sekedar menyusun peta-peta dan rencana-rencana strategis untuk pemenangan pemilu. Cukup bagi saya untuk setiap saat berkomunikasi dengan beliau. Baik dengan menghadap langsung maupun via telp/sms.

Berkenaan dengan kewajiban sebagai dokter, tentunya saya tidak bisa meninggalkan tugas sehari-hari. Melayani pasien, pagi, siang dan malam. Itu sudah komitmen. Seperti tahun sebelumnya saat pilkada.

Ternyata ada yang diluar perkiraan. Penyusunan peta dan strategi kali ini terlalu rumit. Dengan keterlibatan banyak partai dan caleg, sangat menguras waktu dan tenaga saya. Termasuk tugas-tugas rutin saya. Minggu pertama saya meninggalkan tugas 1 hari. Minggu kedua 2 hari. Dan itu terus menjadi pikiran saya. Padahal saya tahu tugas ini tidak mudah.

Terus terang saja, walaupun sudah di 4 Kabupaten (Jember th.2005, Probolinggo th.2007, Murung Raya th.2008, Barito Utara th.2008) saya melibatkan diri di Pilkada sebagai tim ICT untuk pemenangan. Tugas kali ini begitu berat. Apalagi waktu yang tersedia hanya kurang dari 4 minggu. Dan permasalahan ini sudah saya utarakan kepada Bupati. Namun beliau malah memerintahkan untuk bekerja penuh. Ini berarti saya harus meninggalkan pos saya. Semalaman saya tidak bisa tidur. Memikirkan untuk mencari jalan keluar terbaik.

Besok, malam harinya (tepatnya pagi dini hari) setelah rapat konsolidasi yang melelahkan di Aula Rumah Jabatan Bupati kira-kira jam 2 dini hari, saya utarakan keinginan saya minta Memo untuk saya berikan ke pihak-pihak terkait agar saya bisa bekerja penuh (dengan meninggakan pos saya selama 2 minggu). Namun bupati menolak.

Nah, setelah saya baca buku karangan Dino Pati Jalal ‘Harus Bisa, kepemimpinan a la SBY’, saya merasa bersyukur ternyata saya masih dihindarkan dari perbuatan kolusi yang hampir saya lakukan. Dengan manajemen waktu yang saya buat tertulis dalam bentuk time scedule kegiatan bagi tim. Dengan arahan tertulis apa-apa saja tugas yang harus dilakukan, siapa penanggung jawabnya, target pencapaian dan waktunya serta pola pelaporan, saya bisa melaksanakan tugas dari Bupati tanpa harus meninggalkan tugas saya sebagai dokter.

Hari ini saya banyak mengambil pelajaran dari buku tersebut. Semoga saya dihindarkan dari hal-hal yang berbau kolusi. Dan bisa tetap ngeblog. :D

Hak cipta dan kesepakatan di blog dokter

Sudah banyak kita ketahui kalau banyak dari dokter ngeblog. Mulai dari sekedar catatan ringan, keseharian sampai ke tulisan yang “berat-berat”. Tidak dapat dipungkiri juga kalau masalah ruang praktek sering kali diangkat untuk dikonsumsi publik. Padahal itu adalah ruang privat antara dokter dan pasien.

Bagaimana jika keseharian dokter diangkat kepublik lewat blog? Ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya jikalau suatu saat ingin ditampilkan lewat blog.
- hendaknya minta ijin dulu kepasien atau personal-personal yang terlibat.
- jika menampilkan gambar/foto-foto mintalah dulu ijin tertulis.
- jangan menuliskan nama pasien.
- untuk foto wajah, hendaknya di blok.
- baca dulu ketentuan-ketentuan dari masing-masing organisasi profesi mengenai hal seperti ini.

Menurut anda bagaimana? Jika ada tambahan akan saya update.