Linux yang kecil, ringan, cepat, mudah dan simpel
Sebagai pengguna linux sejak tahun 1999 telah banyak distro yang saya pakai. Mulai dari yang susah, mudah, sederhana sampai yang live CD pernah saya coba. Menjadi pengguna slackware saya jalan hampir 7 tahun. Dan 2 tahun terakhir menjadi pengguna ubuntu.
Alasan menggunakan slackware (dan turunannya) dikarenakan kesederhanaanya. Menggunakan ubuntu dikarenakan kemudahannya. Tidak dipusingkan masalah dependensi. Menggunakan slax, DSL, dan distro kecil lainnya disebabkan karena kecil dan ringan. Tapi selalu ada yang kurang. Inginnya menggabungkan semua kelebihan-kelebihan itu.
Pernah saya membuat sendiri distro berbasiskan ubuntu mini yang 10MB itu. Dengan Window Manager LXDE dan membuang paket-paket yang tidak perlu. Namun tetap saja tidak puas. Belum mengena seperti yang saya harapkan. Karena masih terlalu besar dan kurang stabil.
Beralih mengkostumasi slax agar seperti yang saya inginkan. Sekali lagi mengganti KDE dengan LXDE, tapi masalahnya juga sama. Kurang stabil. Dan ukuran slax masih terlalu besar.
Tanggal 2 oktober 2008, saat santai coba-coba browsing ke google ketemu dengan satu distro dengan nama Slitaz. Made in prancis. Dari situ meluncur ke situsnya. Baca-baca sedikit overviewnya dalam bahasa inggris. Ok, yang ini harus saya coba. Akhirnya download dengan kecepatan 2kbps. Selesai setelah 5 jam untuk ukuran 29MB. Selanjutnya membakarnya ke dalam cakram dan mencobanya.
Kesan pertama saya sangat terkesan dengan distro yang satu ini. Semua yang saya harapkan ada didalamnya. Kesederhanaan slackware, kemudahan ubuntu, kecil, ringan, cepat, live cd, bisa diinstal di HD. Dan untuk newbie, saya kira distro ini cocok sebagai pengenalan. Dan untuk yang sudah expert bisa untuk ngoprek. Rekomendasi saya, anda harus coba distro yang satu ini.
Selanjutnya saya ingin ngoprek slitaz. Untuk sekarang sudah saya tanamkan office, webserver+php+cgi+mysql, image editor. Dan jangan kaget ukurannya masih 30MB.









wah kayaknya slitaz asyik tuh,,, kira2 kalo diremaster buat ditambahin patient OS untu keperluan medis di jadiin EMR enak gak ya? kemaren aq nyoba ubuntu, tapi jadinya terlalu gede..hrs pake dvd,,huff…
@ dzulfikar zacky
Ntar saya coba tanamkan Patient OS untuk keperluan EMR. Kayaknya java required ya?
@ Juragan Medis
Ini kayaknya dari IP yang sama ya?
mas tuh trackback kale…
Salam kenal pak dokter..
wah salut untuk pak dokter yang rajin ngoprek linux dan teman2nya.. saya kebetulan baru mau belajar linux, itu saja sdh males hehe.. saya pernah coba install Ubuntu, lmyn sih berhasil, cuma saya terus merasa kesulitan untuk menemukan program RAD yg saya butuhkan untuk membuat program. Impian saya membuat Simpus yang berjalan dengan Linux, cuma linuxnya saja belum bisa gimana dgn simpus nya hehe…ada dokter di Kalimantan Timur yang juga senang otak atik linux, sayang saya belum bisa memenuhi keinginan beliau untuk simpus under linux nya..
mudah2an bsk bisa belajar sama pak dokter..
@ dzulfikar zacky
Trackback? Iya kale…
@ jojok
Hahahah sama-sama belajar kok. Di linux, semangatnya itu loh yang bikin saya betah. Semangat opensource.
Saya juga pengen menyuntikkan simpus versi puskesmas saya bertugas. Yang sederhana saja. Tapi belum ketemu cluenya. Dan yang pasti multiplatform. Pake java ata web based? Ada saran?
salam kenal dok,
lanjut review-nya ya dok
abis maen ke situsnya slitaz, sptnya menarik..smntr masi baca2 dokumentasinya
Trima kasih kunjungannya TS Dani Iswara. Masih banyak kok teman sejawat yang mania linux. Di FKG/FK Universitas Jember sudah jamak kalau dokter/calon dokter menyukai dunia opensource. Tanpa disadari memang. Namun yang masih menganjal bagi saya adalah filosofi opensource belum mengena. Belum adanya keterbukaan, saling berbagi dan saling memberi. Mungkin temen2 penggiat FOSS di Jember bisa merangkul mereka. Tapi sayang tugas PTT di hulu Barito membuat saya tidak bisa andil aktif.
saya sudah mulai mengembangkan simpus web based, kebetulan ada yg cocok dgn simpus single user saya dan mengembangkan lebih maju lagi dengan PHP MySql, saya kira butuh beberapa uji coba sebelum simpus saya bisa jalan di Linux..
@jojok
Butuh tester?
Oh iya, saya sekarang lagi mulai dari awal untuk membuat simpus pada puskesmas saya bertugas. Walaupun masa tugas tinggal 8 bulan. Minimal bisa meninggalkan kesan yang baik. Ada beberapa point yang menjadi catatan saya berkenaan dengan kondisi hulu barito (pkm tumbang lahung) :
- harus hemat listrik walau tiap ruangan ada terminalnya karena selama ini masih pake solar cell –> solved
- thin client –> solved with LTSP
- web based (Lighttp, PHP, MySQL) — > solved
- pengiriman berkala tiap hari — pake sms gateway? sinkronisasi dengan server dinkes? Transport mahal
- multi user
- perawatan bisa remote
wah itu masih terlalu canggih pak .
mungkin bisa saya kasih contoh, di Klinik PT Freeport mereka memakai Simpus saya dengan satu laptop. satu terminal sudah cukup.
SMS Gateway rencananya baru akan saya implementasikan pada proses feed back untuk program KIA..
Saya berangkat dari satu titik bahwa pengembangan simpus bukan selalu harus yang multiuser, tapi yang plg penting adalah proses penangkapan pada data. Mencari cara Capturing data yang paling cepat itu adalah langkah awal Simpus…tapi itu menurut saya lho pak…SMS Gateway ? sepertinya jg masih terlalu jauh pak, pake email saja
Mas kalo linux slitas habis diinstal terus diisi program-program terus dibuat iso lagi gimana caranya . bls di cahyonegoro@gmail.com. thx before siapa saja
@ Noordiansyah
Coba anda baca-baca manual disini http://slitaz.org/en/doc/manuals/tazlito.en.html . Saya sudah pernah ikuti langkah-langkahnya dan sukses. Maaf saya masin online via HP jadi belum liat log di mesin (usb) linux saya.
bsa dikasih tw mas bgmana cranya ngoprek tapi ukurannya tetep 30 M
nah…yang ni ak agak paham…pengen nyoba…kira2 sulit mana dengan ubuntu bos??
@supris
Pengen paham? Nyoba donk… Sulit mana sama ubuntu? Kayaknya lebih sulit pake sarung deh… hiaijaiajaiajaa…..