Dipanggil Bupati Gara-gara Survey

Apa jadinya kalau survey yang dilakukan dikaitkan dengan suasana politik pra pemilu. Kali ini saya mengalaminya. Gara-gara survey yang saya lakukan pada sebagian pasien selama 3 bulan terakhir 2008. Sebenarnya survey yang saya lakukan berkisar pada masalah kesehatan saja. Termasuk pelayanannya. Ya.. semacan tingkat kepuasan gitu. Namun semuanya berujung masalah karena beberapa pertanyaan yang saya berikan berkenaan dengan program kesehatan Pemerintah Kabupaten yang belakangan ini menjadi pembicaraan.

Panggkal tolaknya adalah ada sebagian masyarakat yang belum tahu adanya Program Kesehatan gratis dari Pemda setempat. Plus ada juga sebagian yang masih belum puas dengan program tersebut. Terlepas dari adanya kontroversi dalam pelaksanaanya. Namun yang jelas, gara-gara kegiatan survey yang saya lakukan, sejak kemarin saya tersandera di “Kota” Kabupaten sampai hari untuk menghadap Bupati beserta hasil survey dan data-data penunjang lainnya.

Semoga siang ini bisa bertemu dengan beliaunya, soalnya dari kemarin sudah dijadwal sama ajudannya. Biar cepat selesai dan pulang kerumah sebelum sore, coz kalo dah lewat jam 3 sore, nggak berani deh lewat hutan-hutan gitu. Secara perjalanannya 3 jam total dengan nyeberang sungai Barito.

Hak cipta dan kesepakatan di blog dokter

Sudah banyak kita ketahui kalau banyak dari dokter ngeblog. Mulai dari sekedar catatan ringan, keseharian sampai ke tulisan yang “berat-berat”. Tidak dapat dipungkiri juga kalau masalah ruang praktek sering kali diangkat untuk dikonsumsi publik. Padahal itu adalah ruang privat antara dokter dan pasien.

Bagaimana jika keseharian dokter diangkat kepublik lewat blog? Ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya jikalau suatu saat ingin ditampilkan lewat blog.
- hendaknya minta ijin dulu kepasien atau personal-personal yang terlibat.
- jika menampilkan gambar/foto-foto mintalah dulu ijin tertulis.
- jangan menuliskan nama pasien.
- untuk foto wajah, hendaknya di blok.
- baca dulu ketentuan-ketentuan dari masing-masing organisasi profesi mengenai hal seperti ini.

Menurut anda bagaimana? Jika ada tambahan akan saya update.

Akhirnya Pusling Juga

Ma’af, ini bukan bagian dari serial yang ditayangkan di televisi. Ini adalah kegiatan yang dilakukan oleh puskesmas-puskesmas sebagai bagian dari program. Begitu juga dengan puskesmas saya bertugas. Namun kali ini ada yang ingin saya ceritakan.

Setelah sekian lama tidak ada puling (puskesmas keliling), akhirnya pagi ini dilaksanakan juga. Menurut teman-teman puskesmas sudah hampir 2 tahun tidak dilaksanakan pusling (pastas saja 1,6 tahun saya ptt kok gak pernah pusling).

Dari bisik-bisik antar staff, uang pusling yang diambilkan dari dana rutin triwulan sebesar 29juta raib entah kemana. Dan ini sudah berlangsung selama +/- 2 tahun. Tinggal dikalikan saja dananya. Anehnya dalam laporan yang dibuat oleh bendahara selalu ada kegiatan pusling, itupun pasti ada tanda tangan kepala puskesmas. Ada apa dengan kepala puskesmas dan bendahara-nya?

Keadaan ini sudah berlangsung 2 tahun. Dalam jangka waktu itu, memang sudah sering ditanyakan sama temen2. Tapi selalu saja ada jawaban nanti, nanti dan nanti. Puncaknya bulan november 2008, ada laporan dari masyarakat ke Bupati perihal kegiatan-kegiatan puskesmas yang fiktif. Termasuk diantaranya kegiatan pusling ini. Akhirnya ada saling curiga antara kepala puskesmas dan staff, termasuk dengan dokter2nya.

Selang beberapa hari kemudian, saat saya ada tugas ke dinas propinsi, kecurigaan tersebut pecah menjadi pertengkaran antara kepala puskesmas dengan dokter. Dengan tuduhan dokter melapor ke bupati karena ingin “kudeta”.

Yang menjadi pertanyaan adalah :
- dikemanakan dana rutin 29 jt tiap 3 bulan itu.
- mana laporan penggunaan dana jamkesmas dan askeskin
- dana kesejahteraan kok tidak dibagikan

Bukan, bukan. Saya tidak menggugat kok. Tidak juga minta bagian. Kalo bukan hak saya, buat apa saling berebut. Yang saya tanyakan hanya sekedar penggunaan dananya saja. Tidak lebih.

Hari ini, puskesmasku akhirnya pusling juga. Bersambung…….