Hari cuci tangan sedunia dan budaya kumur
Tanggal 15 Oktober 2008 mendatang adalah hari cuci tangan sedunia. Tak pelak masyarakat kesehatan sepertinya peduli dengan hari tersebut. Termasuk saya tentunya. Dan juga diiklankan di televisi swasta nasional. Cakupan yang ingin dicapai tentunya meningkatnya kesadaran akan manfaat cuci tangan dan hasil akhirnya adalah kesehatan yang makin meningkat.
Sebagai praktisi kedokteran gigi, semestinya kita juga bisa membuat program serupa. Namun bukan ikut-ikutan. Masih ingat dengan slogan Ayo Sekolah-nya sidoel? Nah kiranya mirip-mirip slogan itulah.
Ayo Berkumur. Program ini yang saya tawarkan kepada rekan sejawat sekalian. Ma’af kalau program seperti ini pernah digagas atau malah pernah dilakukan. Tapi tidak ada salahnya kalau saya angkat sukur-sukur kalau menjadi populer.
Berkenaan dengan program Ayo Berkumur yang saya tawarkan, saya punya alasan tersendiri. Pertama, jelas kalau kegiatan berkumur adalah kegiatan yang pasti kita lakukan. Minimal saat kita minum, karena minum merupakan salah satu proses pembersihan rongga mulut yang tidak kita sadari. Selain itu bagi sebagian orang, pastilah berkumur dulu sebelum menggosok gigi. Termasuk bagi umat islam, disunnahkan untuk berkumur sebelum berwudlu. Kedua, berkumur itu mudah. Ketiga, murah. Dan masih banyak alasan-alasan yang bisa dikemukakan. Silahkan anda tambahkan sendiri.
Kumur-kumur adalah kata-kata yang akrab kita dengan. Akrab bukan berarti membudaya. Dan aktifitas kumur-kumur belum membudaya. Khususnya pada masa anak usia sekolah. Bagaiman jika aktifitas berkumur kita jadikan budaya. Tidak mudah memang untuk menanamkan budaya pada msyarakat. Perlu kerja keras dan kerjasama semua pihak. Tapi bukan tidak mungkin. Atau bagaiman kalau pemerintah mencanangkan seminggu sekali ada kumur bersama secara nasional. Tidak usah seperti pencanangn hari cuci tangan sedunia-lah. Cukup seminggu sekali kita berkumur massal secara nasional. Bagaimana menurut anda?