Laskar Pelangi, Medicine 2.0 dan Second Life

Sudah 4 hari ini sinyal gprs telkomsel hilang. Berarti tidak ada aktifitas online selama itu. Salah satu aktifitas yang saya lakukan adalah baca-baca ebook yang ada di laptop. Selain tentunya buku-buku cetak yang belum terbaca. Untuk buku cetak pilihan saya jatuh pada buku Laskar Pelangi yang baru saja difilmkan. Sedangkan ebook saya baca proceeding medicine 2.0 yang baru saja diselenggarakan.

Ebook yang saya baca dan menarik sekali bagi saya adalah proceeding medicine 2.0 yang saya dapat berdasarkan informasi dari Dani Iswara. Walapun sebagian besar hanya berisi abstrak-abstrak saja. Namun tema dan sub tema di dalamnya mewakili apa yang menjadi angan angan saya selama ini. Utamanya tentang dunia kesehatan. Termasuk di dalamnya dunia dokter.

Pada dasarnya medicine 2.0 ingin mengadopsi era web 2.0 sebagai tulang punggung layanan dibidangnya. Kongkritnya dalam bentuk jejaring sosial. Itu yang ingin diwujudkan. Dari laporan-laporan memang sudah ada bentuk-bentuk awal dari wujud medicine 2.0. Namun gerakan secara menyeluruh belum terasa gaungnya.

Bentukan lain yang ingin diadopsi adalah ingin mengambil manfaat dari hadirnya google health. Ini penting dengan semakin menglobalnya aktifitas orang perorang. Sehingga catatan medis bisa diakses darimana saja, selama terhubung kejaringan global tentunya. Jadi tidak perlu lagi bagi pelayan kesehatan membuat catatan medis dari awal. Tinggal download dan pastinya efisiensi serta efektifitas layanan tercapai.

Internet adalah ranah publik. Sedangkan catatan medis adalah domain pribadi pasien. Akankah ada jaminan (jika pola-pola seperti google health diterapkan) kerahasiannya?

Bagi pelaku pelayanan kesehatan sebaiknya membaca proceeding tersebut.

Bacaan berikutnya adalah buku Laskar Pelangi. Pelan-pelan saya membacanya. Karena dari awal ada kemiripan cerita dengan masa kecil saya. Hidup masa kecil di desa yang benar-benar masih alami. Prototipe desa jaman dulu. Dimana adat dan kearifan alam benar-benar terjaga. Mulai dari sekolah yang hampir roboh sampai tugas-tugas piket menyapu kelas dan menyiram bunga.

Cerita belanjut ke tepi pantai. Membuat saya teringat masa-masa berenang di laut, diantara kapal-kapal penangkap ikan nelayan. Kejar kejaran sambil menyelam, main sepak bola air, kuda-kudaan di laut dan semua hal yang saya yakin saat ini susah untuk mendapatkan momen itu. Semua sudah tergantikan oleh virtualisasi, semacam second life mungkin.

Ingin rasanya kembali ke masa kecil. Atau datang ketempat semacam itu dan melihat anak-anak saya didalamnya. Ada nilai moral yanfg diajarkan, untuk selalu toleransi sampai kejujuran. Laskar Pelangi telah membuka lagi tabir kenangan masa kecil itu.

Ada ambigu dalam hati saya saat menuliskan catatan ini. Keinginan untuk mengenalkan anak-anak saya kelak dengan kehidupan Laskar Pelangi dihadapkan pada kenyataan kehidupan virtual yang saat ini kita jalani semacam medicine 2.0 dan second life.

Kongkalikong antara dokter dan pasien part II

Kemarin (19 september 2008) ada pasien datang dengan keluhan sakit dan bengkak pada pipi sebelah kiri. Setelah dipersilahlan duduk dan ditanyai ini itu, kalau istilah penelusuran informasi tentang penyakit yang bersifat subyektif (anamnesa). Selanjutnya dilakukan pemeriksaan pada daerah yang dikeluhkan. Maka diketahuilah kalau sebenarnya ada gigi atas paling ujung telah rusak dan ada polipnya. Dan pembengkakan merupakan keadaan yang memperparah sakitnya.

Dengan keadaan yang akut seperti itu, pasien seharusnya diberi pengobatan terlebih dulu sebelum dilakukan tindakan lebih lanjut satu mingg kemudian. Namun pasien tidak mau. Pasien inginnya dilakukan pencabutan. Walaupun telah dijelaskan dengan bahasa yang saya pikir mudah dimengerti tentang hal-hal negatif yang mungkin terjadi, pasien tetap pada pendiriannya. Pencabutan, itu pilihannya.

Ketika ditanyakan lebih lanjut kenapa maksa dicabut sekarang, pasien memberikan berbagai alasan. Salah satunya adalah tentang sakitnya yang gak bisa ditahan kalau kambuh sampai katanya tidak bisa bekerja. Yang paling logis bagi saya adalah dia tidak bisa datang satu minggu lagi keran tempat dia bekerja adalah dipertambangan. Sedangkan jarak dari tambang dan puskesmas jauh. Tidak setiap waktu bisa datang.

Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, saya meluluskan keinginan pasien untuk dicabut saat itu juga. Kongkalikong pertama yang saya lakukan dengan pasien ini. Pencabutan berjalan lancar tanpa ada kendala berarti. Sukses. Pasien senang dokternya lega.

Tibalah saatnya menyelesaikan administrasi dengan puskesmas dari pembelian obat sampai biaya tindakan. Pasien menyodorkan lebaran yang harus saya isi. Salah satunya terdapat biaya obat dan biaya tindakan dokter. Disini saya diminta si pasien untuk mengisi biaya obat dan tindakan dokter 3 kali dari tarif normal. Awalnya saya tidak mau menuruti keinginan pasien itu, tapi dianya mengancam tidak membayar biaya-biaya yang dibebankan. Padahal obatnya nggak gratis loh. Harus nyetor ke kabupaten. Terpaksa juga menuruti keinginan si pasien. Kongkalikong kedua antar dokter dan pasien terjadilah. Alasan saya adalah demi saya sendiri, karena saya adalah pendatang dan penduduk lokal sangat temperamental. Maklum masih di pedalaman Kalimantan.

Itulah pengalaman saya, bersekutu (kongkalikong) untuk hal yang kurang benar dalam etika sebagai dokter. Apakah saya salah?

Kongkalikong dokter dan pasien

Kemarin (19 september 2008) ada pasien datang dengan keluhan sakit dan bengkak pada pipi sebelah kiri. Setelah dipersilahkan duduk dan ditanyai ini itu, kalau istilahnya penelusuran informasi tentang penyakit yang bersifat subyektif (anamnesa). Selanjutnya dilakukan pemeriksaan pada daerah yang dikeluhkan. Maka diketahuilah kalau sebenarnya ada gigi atas paling ujung telah rusak dan ada polipnya. Dan pembengkakan merupakan keadaan yang memperparah sakitnya.

Dengan keadaan yang akut seperti itu, pasien seharusnya diberi pengobatan terlebih dulu sebelum dilakukan tindakan lebih lanjut satu minggu kemudian. Namun pasien tidak mau. Pasien inginnya dilakukan pencabutan. Walaupun telah dijelaskan dengan bahasa yang saya pikir mudah dimengerti tentang hal-hal negatif yang mungkin terjadi, pasien tetap pada pendiriannya. Pencabutan, itu pilihannya.

Ketika ditanyakan lebih lanjut kenapa memaksa dicabut sekarang, pasien memberikan berbagai alasan. Salah satunya adalah tentang sakitnya yang gak bisa ditahan kalau kambuh, sampai alasan tidak bisa bekerja karena sakit gigi. Yang paling logis bagi saya adalah alasan dia tidak bisa datang satu minggu lagi karena tempat dia bekerja adalah di pertambangan. Sedangkan jarak dari tambang dan puskesmas jauh. Tidak setiap waktu bisa datang.

Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, saya meluluskan keinginan pasien untuk dicabut saat itu juga. Kongkalikong pertama yang saya lakukan dengan pasien ini. Pencabutan berjalan lancar tanpa ada kendala berarti. Sukses. Pasien senang dokternya lega.

Tibalah saatnya menyelesaikan administrasi dengan puskesmas dari pembelian obat sampai biaya tindakan. Pasien menyodorkan lembaran yang harus saya isi. Salah satunya terdapat biaya obat dan biaya tindakan dokter. Disini saya diminta si pasien untuk mengisi biaya obat dan tindakan dokter 3 kali dari tarif normal. Awalnya saya tidak mau menuruti keinginan pasien itu, tapi dianya mengancam tidak membayar biaya-biaya yang dibebankan. Padahal obatnya nggak gratis loh. Harus nyetor ke kabupaten. Terpaksa juga menuruti keinginan si pasien. Kongkalikong kedua antar dokter dan pasien terjadilah. Alasan saya adalah demi saya sendiri, karena saya adalah pendatang dan penduduk lokal sangat temperamental. Maklum masih di pedalaman Kalimantan.

Itulah pengalaman saya, bersekutu (kongkalikong) untuk hal yang kurang benar dalam etika sebagai dokter. Apakah saya salah?